Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana Allah menanamkan kasih dan iman. Namun, jika kita melihat realitas kehidupan saat ini, banyak keluarga yang justru terjebak dalam konflik, perbedaan pendapat, dan luka batin yang dalam. Ketidakharmonisan ini sering kali berujung pada kehancuran atau perceraian karena hilangnya sukacita, yang kemudian digantikan oleh rasa iri dan kecemburuan. Bagi kita orang percaya, hidup dalam keharmonisan harus menjadi prioritas utama. Rahasianya bukan terletak pada tidak adanya masalah, melainkan pada bagaimana kita menempatkan sukacita Tuhan sebagai yang terutama dalam keluarga. Ketika sukacita Tuhan mengalir, setiap persoalan yang datang dapat diselesaikan dengan baik karena ada damai sejahtera yang menuntun kita.
Dalam Mazmur 133:1, Daud mengungkapkan betapa baik dan indahnya ketika saudara-saudara diam bersama dengan rukun. Istilah "saudara" di sini mencakup seluruh orang percaya sebagai satu keluarga rohani di dalam Allah. Hidup harmonis bukan berarti kita harus selalu sama dalam segala hal. Sebaliknya, harmoni adalah tentang persatuan di tengah perbedaan, sebuah kedamaian dan kerja sama yang mendalam, seperti persatuan sempurna dalam Allah Tritunggal.
Sukacita terbesar bukanlah saat semua keadaan menjadi sempurna, melainkan saat kita melihat keluarga tetap rukun di tengah berbagai perbedaan. Untuk mewujudkannya, kita dipanggil untuk: menciptakan suasana rumah yang penuh sukacita, bukan penuh tekanan, saling menghargai perbedaan pendapat dan kepribadian masing-masing anggota keluarga, saling bekerja sama dan tekun mendoakan satu sama lain, dengan demikian, iman dalam keluarga kita akan semakin berakar, bertumbuh, dan akhirnya menjadi teladan yang memberkati keluarga-keluarga lain di sekitar kita.